Dinamika politik Indonesia yang semakin riuh belakangan ini ternyata membawa dampak psikologis yang tidak bisa dianggap remeh bagi generasi muda. Di balik layar digital yang penuh dengan narasi politik transaksional, muncul sebuah fenomena yang disebut sebagai burnout society. Hal ini menjadi sorotan tajam saat akademisi dan pengamat politik, Rocky Gerung, hadir sebagai pembicara utama dalam forum RedTalks 2026 yang dihelat oleh DPD PDI Perjuangan Jawa Timur bersama detikcom di Malang Creative Center, Sabtu (25/7/2026).
Bagi banyak anak muda, keterlibatan dalam isu kenegaraan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan beban mental yang menguras energi. Rocky Gerung secara provokatif membedah kegelisahan ini sebagai bentuk kelelahan kolektif yang berakar dari hilangnya kompas ideologis dalam perpolitikan tanah air.
Memahami Burnout Society: Saat Harapan Bertemu Tembok Kelelahan
Istilah burnout society sebenarnya bukanlah terminologi baru dalam sosiologi modern. Filsuf asal Korea Selatan, Byung-Chul Han, melalui karyanya yang fenomenal, menggambarkan masyarakat modern sebagai subjek yang terus-menerus mengeksploitasi diri sendiri hingga mencapai titik jenuh. Dalam konteks politik di Indonesia, Rocky Gerung mengadaptasi istilah ini untuk menggambarkan kondisi di mana generasi muda merasa gagal memiliki harapan karena sistem politik yang ada terasa tidak lagi relevan dengan aspirasi hidup mereka.
"Anak muda hari ini tidak menarik diri dari politik karena apatis, melainkan karena mereka sedang berupaya memahami jalan keluar dari kegelisahan yang terus-menerus menumpuk," ujar Rocky di hadapan audiens di Malang.
Menurut Rocky, kelelahan ini bukanlah sekadar lelah secara fisik, melainkan mental fatigue yang sangat serius. Dalam analogi teknik, ia menyebutnya sebagai material fatigue. Jika besi terus-menerus dibombardir dengan tekanan yang melampaui batas elastisitasnya, struktur tersebut akan runtuh. Begitu pula dengan mentalitas generasi muda yang terus-menerus terpapar narasi politik berbasis "tukar tambah amplop" atau pragmatisme jangka pendek. Ketika harapan tidak menemukan wadah ideologi yang jelas, yang tersisa hanyalah keputusasaan.
Krisis Ideologi di Balik Politik Transaksional
Salah satu akar masalah yang memicu burnout di kalangan pemilih muda adalah hilangnya pertarungan ideologi yang substansial. Saat ini, persaingan politik nasional lebih sering didominasi oleh kalkulasi elektoral dan transaksi kekuasaan daripada adu gagasan. Data menunjukkan bahwa partisipasi pemilih muda dalam pemilu di Indonesia memang tinggi, namun angka golput atau ketidakpercayaan terhadap institusi politik juga menunjukkan tren yang perlu diwaspadai.
Dampak dari politik yang tidak berbasis ideologi ini adalah munculnya disorientasi politik. Generasi muda yang kritis mendambakan sebuah "arah baru" atau grand design bangsa yang bisa mereka perjuangkan. Namun, ketika mereka melihat partai politik hanya menjadi alat untuk berbagi kursi atau sekadar bagi-bagi "kue" kekuasaan, antusiasme mereka perlahan memudar menjadi sinisme.
Dalam analisis kebijakan publik yang lebih luas, kita dapat melihat bahwa minimnya literasi ideologi di ruang publik membuat anak muda kesulitan membedakan antara retorika kampanye dan realita pemerintahan. Ketidakselarasan inilah yang memicu burnout—kelelahan karena terus mencari kebenaran di tengah lautan manipulasi informasi.
Marhaenisme sebagai Opsi Jalan Kiri
Di tengah kebuntuan ideologis tersebut, Rocky Gerung menawarkan perspektif yang cukup berani dengan mengangkat kembali relevansi Marhaenisme. Bagi Rocky, ideologi yang dicetuskan oleh Bung Karno ini merupakan salah satu dari sedikit "jalan kiri" yang masih tersedia untuk didiskusikan sebagai antitesis terhadap kapitalisme yang ugal-ugalan atau sekadar pragmatisme politik.
"Marhaenisme adalah jalan kiri. Kita ingin menagih apakah narasi sosialisme yang dibawa pemerintah saat ini benar-benar berpijak pada keberpihakan kepada rakyat kecil, atau hanya sekadar gaya-gayaan," tegas Rocky.
Ia menambahkan bahwa Indonesia didirikan dengan fondasi pemikiran yang berani mengambil posisi, bukan sekadar mengikuti arus kanan yang konservatif. Bung Karno, dalam pandangan Rocky, adalah arsitek pemikiran yang memahami pengaruh kolonialisme (kelondoan), namun tidak terjebak menjadi "londo" (orang Belanda). Inilah yang harus diaktifkan kembali dalam imajinasi kolektif generasi muda: bahwa sebuah bangsa bisa dibangun dengan keberanian untuk menentukan arahnya sendiri berdasarkan ideologi yang memerdekakan.
Dampak Jangka Panjang: Mengapa Kita Butuh Ideologi?
Dalam jangka panjang, jika krisis ideologi ini tidak segera diatasi, Indonesia berisiko mengalami krisis kepemimpinan intelektual. Generasi yang tumbuh dalam lingkungan burnout society cenderung menjadi generasi yang mudah digerakkan oleh populisme instan, bukan oleh pemikiran kritis yang sistematis.
Sebagai jurnalis senior yang telah mengikuti dinamika politik selama lebih dari dua dekade, saya melihat bahwa tantangan terbesar bangsa ini bukanlah kemiskinan ekonomi semata, melainkan "kemiskinan ideologi". Ketika politik hanya menjadi panggung drama, maka ruang bagi inovasi dan pembangunan karakter bangsa akan semakin menyempit.
Data dari berbagai survei sosial menunjukkan bahwa faktor utama yang membuat generasi Z dan Milenial tetap bertahan di tengah tekanan adalah adanya rasa memiliki (sense of belonging) terhadap sebuah visi besar. Jika partai politik tidak mampu menyajikan visi ini, maka burnout akan terus menjadi musuh utama partisipasi demokrasi.
Solusi: Membangun Nasionalisme Tanpa Batas
RedTalks 2026 di Malang ini seharusnya menjadi alarm bagi para pengambil kebijakan. Nasionalisme hari ini tidak bisa lagi hanya dikumandangkan melalui retorika simbolik. Nasionalisme masa kini adalah nasionalisme yang mampu memberikan jawaban atas kegelisahan anak muda:
- Pendidikan Politik Berbasis Substansi: Mengurangi gimik politik dan memperbanyak ruang diskusi ideologis yang jujur.
- Keterbukaan Ruang Dialog: Memberikan tempat bagi anak muda untuk benar-benar terlibat dalam perumusan kebijakan, bukan sekadar dijadikan objek suara.
- Restorasi Etika Politik: Menghentikan praktik politik transaksional yang hanya mengandalkan "tukar tambah amplop" karena hal inilah yang paling cepat merusak integritas mental generasi muda.
Rocky Gerung menutup orasinya dengan sebuah ajakan yang provokatif sekaligus menantang: "Jangan takut tersesat di jalan kiri, karena anda pasti tersesat di jalan yang benar." Pernyataan ini tentu bukan sekadar slogan, melainkan sebuah undangan bagi generasi muda untuk kembali membaca sejarah, memahami ideologi, dan berani bersikap di tengah dunia yang semakin tidak pasti.
Kesimpulan: Menuju Masa Depan yang Lebih Terarah
Kondisi burnout society yang disinggung oleh Rocky Gerung adalah cermin jujur dari apa yang sedang dialami oleh bangsa ini. Kita sedang berada di persimpangan jalan. Antara terus membiarkan generasi muda tenggelam dalam kelelahan mental akibat politik yang dangkal, atau mulai membangun kembali fondasi ideologi yang kuat sebagai kompas arah bangsa.
PDI Perjuangan dan partai politik lainnya ditantang untuk membuktikan apakah mereka mampu menjadi wadah bagi ideologi yang memerdekakan, atau justru terjebak dalam arus yang sama yang dikeluhkan oleh anak muda. Bagi generasi muda, tantangannya adalah tetap menjaga api kritis mereka meski di tengah lingkungan yang berusaha memadamkannya.
Pada akhirnya, nasionalisme tanpa batas bukanlah tentang mengabaikan identitas, melainkan tentang bagaimana setiap individu—terutama anak muda—merasa memiliki masa depan di negeri ini karena mereka tahu ke mana arah bangsa ini akan dibawa. Tanpa ideologi, kita hanyalah kerumunan yang lelah. Dengan ideologi, kita adalah kekuatan yang siap mengubah sejarah.
Catatan Editor: Artikel ini disusun sebagai analisis mendalam mengenai dinamika politik dan kesehatan mental generasi muda di Indonesia. Pandangan yang disampaikan oleh narasumber merupakan bagian dari diskusi terbuka dalam forum RedTalks 2026 yang bertujuan memicu pemikiran kritis bagi seluruh elemen masyarakat.
